SEJARAH

Asal Mula Kata Pehabung Uleh, Rangkaian Sejarah Yang Harus Terus Disambung (Part I)

Memulai obrolan dengan salah satu tokoh masyarakat dan juga sebagai salah satu anggota tim 9 dalam pembentukan kota administratif prabumulih. Ahmad Azadin BE. Minggu (06/09/2020)

Sebagaimana dijelaskan dalam situs resmi kota prabumulih, bahwa. Kecamatan Prabumulih ditingkatkan statusnya menjadi Kota Admnistratif Prabumulih berdasarkan Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 18 Tahun 1982, yang diresmikan oleh Menteri Dalam Negri Ad Interin Bapak Soedarmono, SH. Pada tanggal 10 Februari 1983 dengan luas wilayah 21.953 Ha
**

“Kalau asal mulanya, dulu zaman puyang Prabumulih yakni puyang Tegeri memiliki empat orang anak, masing-masing bernama Minggun, Dayan, Resek, dan Jami. Mereka ini meminta izin kepada ayahnya untuk membangun atau membuka negeri baru,

Kemudian keempat anak puyang Tegeri memilih sebuah tempat, dan disepakati lah sebuah lokasi oleh ke empat anak puyang Tegeri tadi.

Lokasi tersebut, tepatnya sekarang ini berada di Jalan Jenderal Sudirman Kelurahan Dusun Prabumulih,
Kecamatan Prabumulih Barat, di persimpangan mengarah Baturaja, atau yang kita kenal dengan ‘Balai’.

Tentu pada masa itu daerah tersebut masih berupa hutan belantara, atau rimba, kemudian keempat anak puyang Tegeri itu menebas lokasi yang rencananya akan dijadikan dusun tersebut.

Dan setelah bersih, sesuai dengan petunjuk untuk menentukan apakah tanah itu layak atau tidak, maka tanah dilokasi yang sudah ditebas dimasukkan ke dalam ‘Kulak’ semacam tempat semacam tabung atau dulu sering dipakai untuk menakar beras.

Setelah Kulak tersebut diisi penuh dengan tanah, kemudian bagian atasnya dikikis rata dan dimasukkan ke bakul besar dengan tujuan agar tidak dimasuki tanah lain.

Puyang Tegeri berpesan kepada keempat orang anaknya, kalau tanahnya bertambah maka tempat itu bisa dijadikan negeri tapi kalau tidak bertambah, atau masih seperti sediakala, maka tidak bagus tempat itu untuk dijadikan dusun atau sebuah negeri

Lalu keempat anak puyang Tegeri tadi melaksanakan apa yang diperintahkan oleh ayahandanya, setelah Kulak diisi dan dikikis dengan kayu biar rata dan padat, lalu dibiarkan semalaman, mereka ber empat pulang dan meninggalkan Kulak tersebut, paginya saat dibuka, dan tempat menyimpan tanah tersebut diangkat lalu isi tanah ditumpahkan ke wadah bakul besar.

Namun ternyata setelah diisikan lagi ke dalam Kulak, tanah yang tadinya rata ketika diisi ke kulak menjadi tidak muat lagi dengan takaran yang ada, artinya tanah tadi menjadi berlebih (Mehabung) dengan kelebihan tanah yang sangat banyak.

Makanya saat itu disebut Mehabung Uleh, dan ini dilakukan berulang-ulang atas perintah puyang Tegeri, sebagai bentuk cara memastikan apakah benar tanah tersebut bertambah, atau tidak, namun meski diulang berkali-kali, tetap saja ada kelebihan tanah, saat dimasukkan ulang ke dalam Kulak.

Saat itu diputuskanlah bahwa lokasi tersebut, layak untuk dijadikan sebuah Dusun,” ungkap Azadin

Lalu setelah itu didirikanlah empat buah kampung untuk melanjutkan keturunan mereka, keempat kampung tersebut didirikan dengan menghadap tempat tanah berlebih atau meninggi tadi, (mehabung). Nama empat dusun itu adalah, Kebur Bungin, Anggun Dilaman, Kumpai Ulu, dan Karang Lintang. Dan disepakati lokasi tanah yang diceritakan diatas disebut kampung Pehabung Uleh. Yang sebelumnya lokasi ini bernama Lubuk Bernai.

Lalu Azadin melanjutkan obrolannya setelah mencicipi sedikit makanan yang kami bawa saat bertandang kerumahnya, dan tidak lupa pula air mineral, minuman khas Kota Prabumulih, WINRO. Yang mempunya rasa segar dan nikmat saat diminum, juga mempunyai berbagai kelebihan lainnya dari air mineral biasa.

“Dan pengertian sekarang ini, apabila kulak mehabung, maka jika kulak penuh pengikis pun datang, artinya apabila kulak penuh yang dapat hasilnya adalah para pendatang, dan anak-anak pribumi hanya mendapatkan Kulaknya saja.

Namun harus diingat, sumpah adat akan berlaku jika melanggar dari aturan yang ada, ‘Kulak’ itu boleh dipinjam tapi jangan di kuasai,” tandasnya

Ahmad Azadin adalah salah satu dari beberapa tokoh masyarakat asli pribumi prabumulih. Beliau juga adalah anak seorang Kerio (Kepala Dusun) dan juga Cucu dari Kepala Menyan (Mungkin bisa semacam kepala adat) kota prabumulih

Setelah jeda beberapa saat obrolan kami tutup dengan berpindah tempat, dari lokasi rencana dibangunnya rumah adat, kami menuju ke kediaman beliau.

“Dahulu ada 6 dusun dilingkungan prabumulih, yakni Karang Raja, Dusun Prabumulih, Tanjung Raman, Sukaraja, Gunung Kemala, dan Muara Dua, saat dijadikan kecamatan, dinamakanlah kecamatan prabumulih.

Kenapa dikatakan kecamatan Prabumulih, bukan kecamatan Gunung Kemala, Karang Raja atau juga Muara Dua, dan lain-lain?, Karena Dusun Prabumulih mempunyai sumpah, atau akad yang berbunyi:

JIKE MANE TALANG TUMBANG BABAT INI MENJADI NEGERI, KEPADE ANAK CUCUKU UNTUK NYEMBELIH KEBAU BULING TEMBAGE, SEBAGAI TANDE TERIMEKASEH KEPADE TUHAN YANG MAHA KUASE DAN KEPADE PUYANG-PUYANG, dengan cara pupuan /sokongan, maka timbul lah sebuah adat sedekah dusun, dan penyembelihan kerbau itu sudah pernah dilaksanakan pada tahun 2001, dan desa lain tidak ada ada yang punya akad itu. Makanya dijadikanlah namanya kota prabumulih.(berlanjut ke sesi selanjutnya)
****
Cerita lengkapnya akan kita buatkan artikel khusus tentang Adat Istiadat Prabumulih, baik dari seni tari, adat pernikahan, adat sunatan, atau juga tentang sejarah Huruf Ulu yang dahulu dijadikan sebagai aksara khas prabumulih, saat berkirim surat. Dan kami masih sangat membutuhkan banyak referensi dari para tetua adat, tokoh masyarakat yang dapat menceritakan sejarah kota tercinta ini dengan berbagai bukti sejarah, dengan bertujuan agar adat budaya kita tetap menjadi pengetahuan bagi anak-anak kita di masa yang akan datang. Jika ada informasi tambahan yang dianggap perlu sebagai penguat sejarah ini, kami akan siap menampungnya demi keabsahan yang bisa diakui oleh semua pihak. Hubungi redaksi kami melalui chatt WhatsApp. 085709198946.

Nara Sumber : Ahmad Azadin BE.
Editor : Rasman Ifhandi and Team Pance
Richard Fernando SH
Yudi Maryandi
Tengku Hendra
Bisma Hadi Yulianto

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *