Listen to this article



Tentu pada masa itu daerah tersebut masih berupa hutan belantara, atau rimba, kemudian keempat anak puyang Tegeri itu menebas lokasi yang rencananya akan dijadikan dusun tersebut.

Dan setelah bersih, sesuai dengan petunjuk untuk menentukan apakah tanah itu layak atau tidak, maka tanah dilokasi yang sudah ditebas dimasukkan ke dalam ‘Kulak’ semacam tempat semacam tabung atau dulu sering dipakai untuk menakar beras.

Setelah Kulak tersebut diisi penuh dengan tanah, kemudian bagian atasnya dikikis rata dan dimasukkan ke bakul besar dengan tujuan agar tidak dimasuki tanah lain.

Puyang Tegeri berpesan kepada keempat orang anaknya, kalau tanahnya bertambah maka tempat itu bisa dijadikan negeri tapi kalau tidak bertambah, atau masih seperti sediakala, maka tidak bagus tempat itu untuk dijadikan dusun atau sebuah negeri

Lalu keempat anak puyang Tegeri tadi melaksanakan apa yang diperintahkan oleh ayahandanya, setelah Kulak diisi dan dikikis dengan kayu biar rata dan padat, lalu dibiarkan semalaman, mereka ber empat pulang dan meninggalkan Kulak tersebut, paginya saat dibuka, dan tempat menyimpan tanah tersebut diangkat lalu isi tanah ditumpahkan ke wadah bakul besar.

Namun ternyata setelah diisikan lagi ke dalam Kulak, tanah yang tadinya rata ketika diisi ke kulak menjadi tidak muat lagi dengan takaran yang ada, artinya tanah tadi menjadi berlebih (Mehabung) dengan kelebihan tanah yang sangat banyak.

Makanya saat itu disebut Mehabung Uleh, dan ini dilakukan berulang-ulang atas perintah puyang Tegeri, sebagai bentuk cara memastikan apakah benar tanah tersebut bertambah, atau tidak, namun meski diulang berkali-kali, tetap saja ada kelebihan tanah, saat dimasukkan ulang ke dalam Kulak.

Saat itu diputuskanlah bahwa lokasi tersebut, layak untuk dijadikan sebuah Dusun,” ungkap Azadin

Lalu setelah itu didirikanlah empat buah kampung untuk melanjutkan keturunan mereka, keempat kampung tersebut didirikan dengan menghadap tempat tanah berlebih atau meninggi tadi, (mehabung). Nama empat dusun itu adalah, Kebur Bungin, Anggun Dilaman, Kumpai Ulu, dan Karang Lintang. Dan disepakati lokasi tanah yang diceritakan diatas disebut kampung Pehabung Uleh. Yang sebelumnya lokasi ini bernama Lubuk Bernai.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *