SALATIGA, OPOSISINEWS. COM – Kodim 0714/Salatiga menegaskan komitmennya sebagai motor penggerak kelestarian lingkungan hidup di wilayahnya. Langkah ini diwujudkan melalui agenda silaturahmi bersama awak media sekaligus konferensi pers yang digelar di Makodim 0714/Salatiga pada Selasa (1/9/2026).
Dalam pertemuan tersebut, Kodim resmi meluncurkan payung gerakan taktis bertajuk “Jaga Salatiga Kita: Gerakan Bersama Menghadapi Krisis Sampah, Air, dan Pangan”. Program ini dirancang sebagai investasi jangka panjang demi menjaga keberlanjutan daya dukung kota dalam 20 hingga 50 tahun ke depan.
Dandim 0714/Salatiga, Letkol Inf Fajar Hapsari Nugroho, menegaskan bahwa program ini lahir dari pembacaan situasi atas kerentanan kota akibat pertumbuhan urbanisasi yang masif. Menurutnya, jika masalah air, sampah, dan berkurangnya regenerasi petani tidak diantisipasi sekarang, Salatiga akan menghadapi titik nadir peradaban.
“Kita tidak mungkin menentukan masa depan kota hanya dengan membangun fisiknya hari ini. Kita harus bertanya, Salatiga mau menjadi kota seperti apa 20 sampai 50 tahun lagi? Jaga Tirta, Jaga Organik, dan Jaga Pangan adalah ikhtiar bersama untuk menjaga air, tanah, lingkungan, dan manusianya. Inilah ruh sebuah kota,” ujar Letkol Inf Fajar Hapsari Nugroho.
Gerakan menyeluruh ini mengintegrasikan tiga pilar utama berbasis penyelesaian masalah nyata di lapangan:
Jaga Tirta Salatiga (Sejak Maret 2025): Berfokus pada pembersihan rutin, revitalisasi, konservasi saluran air, dan pembuatan sumur resapan masif untuk mengembalikan air ke dalam tanah. Selain itu, saluran air bersih juga dimanfaatkan untuk budidaya ikan konsumsi guna mendongkrak ekonomi warga.
Jaga Organik: Solusi penanganan sampah organik sisa makanan rumah tangga dengan memanfaatkan kearifan lokal. Sisa makanan warga di tingkat RW dialihkan menjadi pakan utama budidaya entok dan lele. Langkah ini sekaligus menekan masalah bau menyengat serta air lindi di TPA Ngronggo, sembari memberikan nilai ekonomi periodik bagi masyarakat.
Jaga Pangan Salatiga: Langkah mitigasi terhadap masifnya alih fungsi lahan sawah historis di Salatiga. Gerakan ini berfokus melestarikan lahan pertanian yang tersisa sekaligus menumbuhkan generasi baru petani.Gerakan ini mendapat dukungan penuh dari legislatif kota. Ketua DPRD Kota Salatiga, Dance Ishak Palit, mengapresiasi inisiatif Kodim yang dinilainya melompat jauh ke depan melampaui sekat-sekat program kerja normatif.
“DPRD Salatiga siap mengawal gerakan ini dari sisi regulasi dan dukungan kebijakan. Masalah lingkungan, sampah, dan pangan bukan urusan satu instansi saja, tapi menyangkut hajat hidup seluruh warga Salatiga. Ini adalah model kolaborasi konkret yang harus kita dukung penuh,” tegas Dance Ishak Palit.
Senada dengan hal itu, Adi, selaku penggerak program “Jaga Kota Salatiga”, menyebutkan bahwa keberhasilan gerakan swadaya ini bertumpu pada konsistensi masyarakat di akar rumput. Walaupun sistem tata kelola koordinasinya rumit, program Jaga Organik ditargetkan dapat terealisasi di seluruh RW di Salatiga.
“Kunci dari gerakan Jaga Kota ini adalah kesadaran bersama. Kami di lapangan bergerak bersama warga untuk memastikan sampah organik selesai di tingkat lingkungan terkecil dan memberikan dampak ekonomi langsung bagi mereka melalui budidaya entok dan lele,” kata Adi.
Melalui sinergi erat bersama media, seluruh pemangku kepentingan (stakeholder), dan partisipasi aktif masyarakat, gerakan swadaya berkelanjutan ini diharapkan mampu menjadi percontohan (role model) bagi wilayah lain di Indonesia dalam menghadapi krisis ekologi global. (*)







