OposisiNews.com– Warga RW 04 Silayur Lawas Duwet, Kelurahan Bringin, Kecamatan Ngaliyan, Kota Semarang, kembali menghidupkan tradisi sedekah bumi sebagai bentuk ikhtiar memohon keselamatan bagi masyarakat, khususnya pengguna jalan yang melintas di tanjakan Silayur.
Kawasan tanjakan Silayur selama ini dikenal rawan kecelakaan lalu lintas. Banyak warga bahkan menyebutnya sebagai “tanjakan tengkorak” karena sering terjadi insiden yang menimbulkan korban jiwa maupun luka-luka.
Melalui tradisi ruwatan dan doa bersama, masyarakat berharap musibah yang selama ini terjadi dapat berkurang serta membawa ketentraman bagi lingkungan sekitar.
Warga memulai kegiatan dengan doa bersama dan tahlil yang berlangsung khusyuk.
Mereka menyiapkan tumpeng, aneka buah, serta berbagai makanan tradisional yang kemudian disusun menjadi gunungan di tengah lokasi acara.
Tradisi tersebut sebenarnya sudah berlangsung sejak lama dan menjadi bagian dari kehidupan masyarakat Silayur.
Namun, dalam beberapa tahun terakhir, warga sempat tidak lagi melaksanakannya.
Kini, warga kembali menggelar sedekah bumi dengan harapan memperoleh keberkahan, keselamatan, dan ketenangan hidup.
Pada malam harinya, warga juga melanjutkan rangkaian acara dengan pagelaran wayang kulit yang mengangkat lakon Wahyu Ketentreman.
Ketua RW 04 Silayur Lawas Duwet, Arsondi, mengatakan tradisi ruwatan sudah ada sejak masa Mbah Kromo yang memimpin Dukuh Silayur pada era 1960-an.
Menurutnya, masyarakat rutin menggelar ruwatan setiap bulan Apit atau Dzulqa’dah dalam kalender Hijriah sebagai bentuk penghormatan terhadap leluhur sekaligus doa bersama untuk keselamatan warga.
“Mbah Kromo memimpin Dukuh Silayur sampai tahun 1975, kemudian Mbah Nasir melanjutkan kepemimpinan itu hingga tahun 1980,” jelas Arsondi usai kegiatan sedekah bumi, Sabtu (16/5/2026).
Sekretaris Camat Ngaliyan, Soegiman, mengapresiasi langkah warga yang kembali menggelar tradisi ruwatan tersebut.
Ia menilai upaya itu menjadi bukti nyata kepedulian masyarakat dalam menjaga budaya lokal agar tetap hidup di tengah perkembangan zaman.
Menurutnya, sedekah bumi tidak hanya memiliki nilai spiritual, tetapi juga mempererat kebersamaan antarwarga dan menjadi warisan budaya yang harus terus dijaga.
“Kami sangat mengapresiasi warga yang kembali mengadakan ruwatan Silayur. Ini menjadi bentuk nyata masyarakat dalam nguri-uri budaya,” ujarnya.
Ia berharap kegiatan tersebut dapat membawa dampak positif, terutama dalam menciptakan rasa aman dan keselamatan bagi masyarakat yang melintas di jalur Silayur maupun warga sekitar.
“Semoga tradisi ini membawa keselamatan bagi seluruh pengguna jalan dan khususnya masyarakat Silayur,” pungkasnya. (liem)







