SUSUKAN,OPOSISINEWS.COM – Pengusaha tambang batu sekaligus Kepala Desa (Kades) petahana Desa Tawang, M. Jatmiko, resmi mendaftarkan diri kembali dalam kontestasi Pemilihan Kepala Desa (Pilkades) Serentak 2026 di Desa Tawang, Kecamatan Susukan, Kabupaten Semarang. Menariknya, bursa pemilihan periode kedua ini bukanlah melawan kotak kosong atau calon tunggal, melainkan Jatmiko secara resmi ditantang oleh istrinya sendiri yang maju sebagai rival politiknya demi memenuhi syarat regulasi pemilihan.
Menurut Jatmiko, situasi melawan istri sendiri ini terjadi bukan karena kekosongan kader pemimpin, melainkan karena masyarakat setempat kini sudah lebih cerdas dan memahami esensi dari sebuah kepemimpinan. Warga menilai bahwa jabatan kades bukanlah komoditas politik yang harus diperebutkan melalui konflik, melainkan amanah untuk membawa desa ke arah yang lebih rukun, adem ayem, dan tenteram.
“Sebenarnya bukan tidak ada lawan, tetapi mungkin karena masyarakat sekarang sudah lebih mengerti konteks pemimpin. Pilkades ini bukan suatu jabatan untuk diperebutkan, tetapi bagaimana makna menjadi pemimpin yang bisa mengayomi setelah terlantik,” kata M. Jatmiko saat memberikan keterangan di kediamannya, Rabu (4/11/2026).
Jatmiko menambahkan bahwa masyarakat melihat kinerjanya selama ini berjalan secara normatif dan sederhana sesuai aturan regulasi yang ada. Ia sengaja maju kembali karena masih memiliki tanggung jawab besar untuk menuntaskan program pembangunan yang belum selesai di desa seluas hampir 700 hektare tersebut, terutama sektor infrastruktur jalan yang belum terbangun sepenuhnya.
Ia menjelaskan bahwa pada periode kedua nanti, fokus utamanya adalah menyelesaikan pembangunan fisik jalan dan meningkatkan perekonomian warga. Mengingat mayoritas mata pencaharian warga Tawang adalah sektor pertanian, ia menargetkan adanya bantuan dari pemerintah pusat untuk pembangunan embung serta pengembangan potensi desa wisata.
Selain sektor pertanian, Jatmiko mengeklaim kemajuan pesat pada UMKM anyaman bambu di 11 dusun yang ada di desanya. Melalui program edukasi, para pemuda setempat kini mampu memutus rantai tengkulak luar daerah dan memasarkan sendiri hasil kerajinan mereka ke Sragen, Solo, Purwodadi, hingga Klaten, sehingga mampu meningkatkan taraf hidup dari yang semula bersepeda motor kini sudah memiliki armada roda empat.
Terkait strategi untuk menarik minat 4.060 pemilih agar tetap berbondong-bondong datang ke Tempat Pemungutan Suara (TPS) meskipun harus memilih di antara suami-istri, pria berusia 46 tahun ini menegaskan tidak akan menggunakan politik uang (money politics).
Ia menyatakan bahwa dirinya tidak menjanjikan uang, melainkan berkomitmen menyediakan fasilitas umum yang nyata, seperti operasional ambulans desa serta pemenuhan sarana olahraga voli untuk anak-anak muda. Jatmiko ingin menanamkan prinsip gotong royong bahwa pemimpin dan masyarakat saling membutuhkan untuk membangun desa bersama-sama.
Di akhir keterangannya, Jatmiko berharap edukasi politik ini dapat menyadarkan generasi muda agar iklim demokrasi di Desa Tawang tetap damai dan terhindar dari konflik internal. Ia menginginkan agar siapapun yang akan menggantikannya setelah masa jabatannya habis dua periode nanti, dapat dipilih secara harmonis tanpa harus memicu perpecahan di masyarakat.(*)







