Reporter: Harjo
SUSUKAN,OPOSISINEWS.COM – Kerusakan parah pada saluran irigasi Rejoso di Kecamatan Susukan, Kabupaten Semarang, kian meresahkan warga. Kebocoran tanggul yang masif membuat pasokan air macet total, hingga mengancam ketahanan pangan dan menyengsarakan ratusan petani di wilayah tersebut yang kini terancam tidak bisa menanam padi.
Kepala Desa Gentan, Mulyadi, mengungkapkan bahwa mayoritas warganya menggantungkan hidup dari sektor pertanian dan sangat mengandalkan aliran irigasi Rejoso. Namun, kondisi infrastruktur yang rusak parah membuat air habis di tengah jalan sebelum sampai ke lahan persawahan warga.
Menurut Mulyadi, aliran irigasi Rejoso sebenarnya mencakup wilayah pertanian yang sangat luas. Aliran tersebut mengairi Desa Ketapang, Desa Gentan, Desa Sambal Ijo, hingga merambah ke Desa Bantengan di Kabupaten Boyolali.
“Karena tingkat kerusakan saluran itu, air sampai di Desa Gentan saja susah. Habis di jalan karena banyaknya kebocoran tanggul irigasi. Kalau musim penghujan, tanggulnya selalu jebol,” ujar Mulyadi saat ditemui awak media di Susukan .Rabu (4/11/2026).
Mulyadi menambahkan bahwa pihak desa sudah berupaya mengajukan bantuan ke Balai Penyuluhan Pertanian (BPP) tingkat kecamatan, hingga mencoba mengetuk pintu aspirasi anggota dewan.
Pihak Dinas Pekerjaan Umum (PU) Provinsi pun sempat datang meninjau dan meminta desa membuat proposal secara online.
Namun, hingga kini upaya tersebut membentur dinding penolakan tanpa arah yang jelas. “Kami disuruh membuat proposal, tapi mau diarahkan ke mana, kami tidak ada petunjuk. Kami juga sudah bilang-bilang ke aspirasi dewan, tapi selama ini belum ada yang mengabulkan,” keluhnya.
Dampak dari rusaknya fasilitas publik ini sangat masif. Akibat rusaknya infrastruktur ini, ada sekitar 500 hektar lahan pertanian di lima desa yang membentang hingga Kabupaten Boyolali kini mengalami kekeringan ekstrem dan sama sekali tidak teraliri air.
Kondisi ini membuat para petani di Desa Gentan kini terjebak dalam ketidakpastian. Mereka mengaku hanya bisa pasrah menunggu mukjizat cuaca dan terpaksa membiarkan lahan mereka menganggur.
Salah seorang perwakilan petani setempat mengeluhkan bahwa kini mereka hanya bisa menunggu musim penghujan tiba agar bisa mengolah lahan. Ia menegaskan bahwa saat musim kemarau, sawah mereka sama sekali tidak bisa ditanami karena air dari irigasi Rejoso tidak pernah sampai ke hilir.
Mewakili suara hati warganya, Mulyadi mendesak Pemerintah Provinsi Jawa Tengah untuk segera turun tangan melakukan perbaikan fisik di lapangan secara nyata.
“Untuk itu, saya meminta dari pemerintah provinsi segera menangani terkait dengan keluh kesah petani, khususnya masyarakat Desa Gentan. Saya berharap dinas PU provinsi secepatnya menangani kerusakan saluran di Rejoso itu,” pungkas Mulyadi.(*)







