Laporan | Agung Widodo
KAB SEMARANG | OPOSISINEWS.COM – Kesabaran warga Kecamatan Bergas akhirnya meledak. Bertahun-tahun menghadapi jalan rusak yang diduga akibat aktivitas truk pengangkut material tambang, masyarakat memilih melakukan aksi protes terbuka dengan menanam pohon pisang dan meletakkan batu di tengah jalan berlubang sebagai simbol matinya perhatian terhadap keselamatan warga.
Aksi tersebut terjadi di ruas Jalan PTP Ngobo, Waringin Putih, Kecamatan Bergas, Kabupaten Semarang. Jalan yang seharusnya menjadi urat nadi aktivitas masyarakat kini berubah menjadi lintasan berbahaya yang dipenuhi lubang, aspal mengelupas, serta debu tebal yang setiap hari mengancam kesehatan warga.
Ironisnya, kondisi itu bukan terjadi dalam hitungan bulan, melainkan telah berlangsung selama bertahun-tahun tanpa penyelesaian yang jelas. Warga menilai pemerintah dan pihak-pihak yang menikmati keuntungan dari aktivitas tambang terkesan saling lempar tanggung jawab, sementara masyarakat dipaksa menanggung dampaknya.
“Keluhan sudah berkali-kali disampaikan. Jalan memang pernah diperbaiki, tetapi hanya tambal sulam. Rusak lagi, ditambal lagi. Begitu terus. Sampai kapan?” ujar Riyanto, salah seorang warga, saat ditemui di lokasi.
Menurut warga, kerusakan jalan semakin cepat terjadi karena tingginya intensitas kendaraan berat yang keluar masuk kawasan tambang. Beban tonase yang besar diduga menjadi faktor utama yang membuat jalan tidak mampu bertahan lama.
Warga Hirup Debu, Pengusaha Nikmati Keuntungan
Selain kerusakan jalan, masyarakat juga harus menghadapi persoalan lain yang tak kalah serius, yakni polusi debu. Saat cuaca panas dan kemarau tiba, debu dari kendaraan pengangkut material beterbangan hingga masuk ke rumah-rumah warga.
Kondisi tersebut bukan hanya mengganggu kenyamanan, tetapi juga berpotensi menimbulkan gangguan kesehatan, terutama bagi anak-anak dan lansia.
“Dulu jalannya bagus. Sekarang setiap hari kami harus menghadapi debu dan jalan rusak. Yang menikmati hasil usaha siapa, yang menanggung dampaknya siapa?” keluh Riyanto.
Pertanyaan tersebut menjadi cerminan kegelisahan masyarakat yang merasa selama ini hanya menjadi korban dari aktivitas ekonomi yang berlangsung di wilayah mereka.
GRIB Jaya: Jangan Jadikan Warga Korban Abadi
Persoalan ini mendapat perhatian dari GRIB Jaya Kabupaten Semarang.
Perwakilan organisasi tersebut, Dodi, menegaskan pihaknya akan mengawal aspirasi masyarakat hingga ada langkah nyata dari pemerintah maupun pihak perusahaan yang diduga memanfaatkan akses jalan tersebut.
“Kami tidak ingin warga hanya dijadikan penonton sekaligus korban. Jika aktivitas usaha menghasilkan keuntungan besar, maka tanggung jawab terhadap lingkungan dan infrastruktur juga harus besar,” tegas Dodi.
Menurutnya, tidak boleh ada pembiaran terhadap kerusakan fasilitas publik yang secara nyata dirasakan masyarakat setiap hari.
“Jangan sampai masyarakat terus menanggung kerugian, sementara pihak yang menikmati keuntungan memilih diam. Infrastruktur rusak, debu mengganggu kesehatan, dan keselamatan pengguna jalan terancam. Ini harus menjadi perhatian serius,” tambahnya.
Menunggu Korban Jatuh Baru Bertindak?
Aksi tanam pohon pisang di tengah jalan menjadi tamparan keras bagi pihak-pihak yang selama ini dinilai lamban merespons keluhan masyarakat.
Warga mempertanyakan keseriusan pemerintah daerah dalam melakukan pengawasan terhadap kendaraan berat yang melintas, termasuk penegakan aturan tonase dan kewajiban perusahaan untuk ikut bertanggung jawab terhadap kerusakan jalan yang digunakan untuk kepentingan usaha.
Masyarakat mendesak adanya langkah konkret, bukan lagi perbaikan tambal sulam yang hanya bertahan sementara. Mereka juga meminta audit terhadap aktivitas kendaraan berat serta evaluasi menyeluruh terhadap dampak lingkungan yang ditimbulkan.
Sebab jika kondisi ini terus dibiarkan, pertanyaan yang muncul semakin keras: apakah pemerintah dan pihak terkait memang sedang menunggu jatuhnya korban jiwa sebelum benar-benar bertindak?
Hingga berita ini ditulis, warga masih menanti langkah nyata dari pemerintah daerah maupun pihak perusahaan terkait agar Jalan PTP Ngobo kembali layak dilalui dan tidak lagi menjadi simbol ketidakpedulian terhadap keselamatan masyarakat.







